Di Indonesia, tanggal 10 November dirayakan sebagai Hari Pahlawan. Waktu masih bocah, saya pernah bertanya kepada éyang: “Pahlawan itu pekerjaan apa to mbah?” Éyang saya tertawa geli, “Nggèr, pahlawan itu bukan pekerjaan; bukan pula status politik (seperti yang sering kita kenal saat ini). Kepahlawanan adalah sikap hidup”. Lalu, éyang saya itu, yang juga seorang dalang, bercerita tentang pahlawan dalam wawasan pewayangan.
Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelip (bumi berguncang-guncang, langit bersinar-sinar). Setiap krisis ? krisis kekuasaan, kenegaraan, atau kemanusiaan?.melahirkan pahlawannya masing-masing; dengan sifat khasnya masing-masing pula.
Pahlawan rezim penguasa
Pahlawan rezim penguasa adalah orang-orang yang ‘setia’, dan siap berkorban untuk suatu rezim tertentu. Dalam banyak hal, kesetiaan tersebut merupakan imbalan bagi kamuktèn (harta dan jabatan) yang diterima oleh si pahlawan dari si penguasa. Pahlawan model ini cenderung mengesampingkan etika serta nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan, demi kesetiaan yang murni dan konsekuen tadi.
Karna adalah contoh klasik pahlawan rezim penguasa. Anak hasil selingkuhan Dewi Kunti dan Betara Surya (Dewa Matahari) ini, dibuang oleh ibunya untuk menutup aib.
Karna kecil yang terlunta-lunta, yang sempat diangkat anak oleh kusir kerajaan Astina, akhirnya bisa merayap ke puncak karir sebagai prajurit yang cemerlang. Atas jasa-jasa dan pengabdian Karna, rezim totaliter Kurawa di Kerajaan Astina memberinya jabatan adipati.
Walaupun kerajaan Astina belum mengenal undang-undang otonomi daerah, adipati tetaplah jabatan empuk dan basah yang dambaan setiap birokrat, politisi, dan prajurit, termasuk Karna.
Ketika pecah Bharata Yuda (perang saudara Bharata), Kunti membujuk Adipati Karna untuk meninggalkan rezim batil Kurawa dan bergabung saja dengan Pandawa, yang sedang memperjuangkan hak-hak mereka yang sah atas kerajaan Astina.
Sang Adipati menolak, karena dia sudah terlanjur berhutang budi, ikut mengecap kamuktèn, dan terlibat kebatilan berjamaah dengan rezim Kurawa tadi.
Akhirnya, di Kurusetra, Karna tewas di tangan Arjuna, saudara tirinya. Jadilah Adipati Karna seorang pahlawan rezim Kurawa; rezim kebatilan yang dibelanya sampai mati.
Pahlawan negara
Pahlawan negara adalah orang-orang yang ‘setia’, dan siap berkorban untuk negara, bukan untuk rezim penguasanya. Dalam banyak hal, kesetiaan tersebut merupakan ikatan emosi sangat kuat antara si pahlawan dengan negeri kelahirannya.
Pahlawan model ini juga rela mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan, demi keutuhan dan keselamatan negara. Dan yang dimaksud dengan ‘negara’ adalah rakyat, pemerintah (yang idealnya juga dipilih rakyat), dan wilayah. Sedumuk bathuk, senyari bumi; setiap jengkal wilayah harus dipertahankan, at all cost, jangan sampai ada yang memisahkan diri atau diambil orang lain.
Kumbokarna adalah contoh klasik seorang pahlawan negara. Walaupun saat itu nasionalisme belum berkembang, adik raja jahat Dasamuka ini terpaksa madheg senopati untuk menangkal invasi pasukan Sri Rama atas kerajaan Alengka. Rama nglurug ke Alengka karena istrinya, si jelita Dewi Sinta, dicuri si hidung belang Dasamuka.
Sebenarnya, Kumbokarna sendiri termasuk orang yang menentang perbuatan culas Dasamuka ini. Bahkan, sebagai protes terhadap kakaknya, Kumbokarno mengembalikan semua kamuktèn yang diperolehnya dari rezim Alengka.
Kalau saja Sri Rama menyelesaikan kasus pencurian istri ini secara baik-baik di pengadilan, atau secara kasar melalui carok (duel ala Madura), tentu si Kumbokarno tidak akan cawé-cawé. Tetapi karena Sri Rama melakukan invasi militer ke Alengka, terpaksalah Kumbokarna melakukan kewajiban konstitusinoal bela-negara. Akhirnya, Kumbokarna pun gugur sebagai pahlawan negara.
Pahlawan kemanusiaan
Pahlawan kemanusiaan adalah orang-orang yang ‘setia’, dan siap berkorban untuk prinsip-prinsip humanisme, bukan untuk negara, apalagi rezim penguasanya. Dalam banyak hal, kesetiaan tersebut mengakar pada idealisme yang sangat kuat untuk membangun dunia yang lebih baik, yang lebih aman bagi setiap orang. Pahlawan model ini terkadang melupakan realitas politik dalam mengejar cita-cita luhur tadi.
Gunawan Wibisono, juga adik Dasamuka, merupakan contoh klasik seorang pahlawan kemanusiaan. Karena terlalu bersemangat dalam memperjuangkan hak-hak azasi manusia, termasuk hak Sinta untuk menolak cinta Dasamuka, akhirnya rezim Alengka memerintahkan dinas intelijennya untuk membunuh Gunawan Wibisono.
Untunglah, Gunawan berhasil bergabung dengan pasukan Sri Rama. Tentu saja, tindakan mencari asylum ini dianggap sebagai pengkhianatan oleh Dasamuka. Gunawan Wibisono diangkat sebagai penasihat perang Sri Rama, yang akhirnya berhasil melakukan regime change di Kerajaan Alengka.
Pahlawan ideal ?
Saya bukan dalang, bukan pula orang bijak yang mampu memberikan pitutur tentang pahlawan yang ideal. Jadi terserah sampéyan, sebagai penonton wayang, atau pembaca kisah wayang ini, untuk memilih sendiri model pahlawan yang paling ideal menurut selera masing-masing. Yang jelas, menurut éyang saya, wayang semakin hilang dan pahlawan juga semakin jarang. Sumonggo.
